Assalamualaikum ...
Berawal di tahun 2017 sepasang pasutri yang bisa dikatakan mereka nikah karna perjodohan yang mendadak dan tinggal dirumah kontrakan berdua di kota Bandung bersama adik lakilaki dari pihak suami, yang kadang kerumah karna dia adik satusatunya dari pihak suami, pada hari itu setelah pengantin baru di bawalah sang istri ke kota Bandung tempat suaminya bekerja di PT Pos Indonesia sedang istrinya saat itu hanya sebagai IRT, yang dulunya dia seorang gadis ceria dan semangat akan usaha yang dia tekuni saat sebelum menikah berawal rumah tangga mereka baik baik makin kesini berjalanya waktu makin sering adanya percekcokan jika kedatangan tamu yaitu Mertua ... yaps mertua selang berjalanya waktu setelah mereka nikah si mertua ini karna udah pensiun dari pekerjaannya maka sering datang mengunjungi anaknya yang masih pengantin baru ini, dan di saat itu juga sang menantu sedang hamil muda yang bahkan ketika pas tau hamil , sang menantu tidak menyangka sama sekali dengan perkataan mertuanya spontan sang mertua pas tau mantunya hami " hah ? kenapa cepat sekali hamil ??? " syok ??? sangat sangat sangat " kok ada ya orangtua yang tau mantunya hamil kok jwbnya gitu ngakak plus sakit hati tuh sang menantu... ketika datang pun tak sungkan2 menegur menantunya apabila kemauanya tdk sesuai ekspestasinya dia, contoh kecil. dalam melayani anaknya ketika berangkat kerja , mengatur segala sesuatu tentang isi rumah, dan yang paling penting buat istri itu adalah setiap pengambilan keputusan rumah tangga yang berhak memutuska itu pasutri tadi tapi apa daya jika mertualah yang menjadi pengambilan keputusan rumah tangga mereka ??? apakah seorang istri bisa menerimanya ? tentu tidak " yang kita ketahui secara agama dan logika setelah anak menikah jangan sampai ada campur tangan mertua atau orgtua sekalipun, bahkan orangtua ataupun mertua boleh saja berkunjung kerumah anaknya kapan saja yang ia mau, memberikan nasihat kepada anaknya atau menantunya ... tapi ada batas dan adabnya untuk menyampaikan bukan justru ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya dengan mengambil keputusan rumah tangga mereka. dan seorang anak atau suami tentu menjadi kepala keluarga setelah menikah, tentunya suami lah yang berhak mengambil keputusan apa saja yang berhak di pilih demi kebahagiaan keluarga kecilnya.
Berawal di tahun 2017 sepasang pasutri yang bisa dikatakan mereka nikah karna perjodohan yang mendadak dan tinggal dirumah kontrakan berdua di kota Bandung bersama adik lakilaki dari pihak suami, yang kadang kerumah karna dia adik satusatunya dari pihak suami, pada hari itu setelah pengantin baru di bawalah sang istri ke kota Bandung tempat suaminya bekerja di PT Pos Indonesia sedang istrinya saat itu hanya sebagai IRT, yang dulunya dia seorang gadis ceria dan semangat akan usaha yang dia tekuni saat sebelum menikah berawal rumah tangga mereka baik baik makin kesini berjalanya waktu makin sering adanya percekcokan jika kedatangan tamu yaitu Mertua ... yaps mertua selang berjalanya waktu setelah mereka nikah si mertua ini karna udah pensiun dari pekerjaannya maka sering datang mengunjungi anaknya yang masih pengantin baru ini, dan di saat itu juga sang menantu sedang hamil muda yang bahkan ketika pas tau hamil , sang menantu tidak menyangka sama sekali dengan perkataan mertuanya spontan sang mertua pas tau mantunya hami " hah ? kenapa cepat sekali hamil ??? " syok ??? sangat sangat sangat " kok ada ya orangtua yang tau mantunya hamil kok jwbnya gitu ngakak plus sakit hati tuh sang menantu... ketika datang pun tak sungkan2 menegur menantunya apabila kemauanya tdk sesuai ekspestasinya dia, contoh kecil. dalam melayani anaknya ketika berangkat kerja , mengatur segala sesuatu tentang isi rumah, dan yang paling penting buat istri itu adalah setiap pengambilan keputusan rumah tangga yang berhak memutuska itu pasutri tadi tapi apa daya jika mertualah yang menjadi pengambilan keputusan rumah tangga mereka ??? apakah seorang istri bisa menerimanya ? tentu tidak " yang kita ketahui secara agama dan logika setelah anak menikah jangan sampai ada campur tangan mertua atau orgtua sekalipun, bahkan orangtua ataupun mertua boleh saja berkunjung kerumah anaknya kapan saja yang ia mau, memberikan nasihat kepada anaknya atau menantunya ... tapi ada batas dan adabnya untuk menyampaikan bukan justru ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya dengan mengambil keputusan rumah tangga mereka. dan seorang anak atau suami tentu menjadi kepala keluarga setelah menikah, tentunya suami lah yang berhak mengambil keputusan apa saja yang berhak di pilih demi kebahagiaan keluarga kecilnya.
Tapi bagaimana jika seorang anak atau suami karakter dan jiwanya masih dalam ruang lingkup anak mama atau anak yang masih dibawah ketiak mamanya ??? sungguh mengecewakan bukan ? tentu" sangat mengecewakan buat istri yang ternyata suaminya pun masih belum mampu menjadi kepala keluarga yang baik buat diri dan anaknya kelak... terlebih lagi jika ada permasalahan rumah tangga mertua lah yang selalu ikut campur dalam masalah tsb tanpa berfikir panjang menghargai perasaan istri dan anaknya yang belum ia kenal baik akibat perjodohan mendadak itu.
Hal kecil bisa jadi hal yang besar di pasangan pasutri jika suatu masalah harus di selesaikan dengan campur tangan mertua, harus nya si mertua ini mikir " kalau dia juga pernah muda, pernah pengantin baru, punya mertua juga " tapi kok bisa banget ngurus urusan rumah tangga anaknya.
Berlanjut hari demi hari dilalui berdua dengan di dampingi, dikontrol oleh sang mertua ini yang nyatanya ia rela meninggalkan suaminya yang tinggal sendiri di Sulawesi tepatnya kota ParePare demi berkunjung kerumah sang anak dan menantunya. lucu ??? sangat lucu' kok ada ya mertua seperti itu sayapun sempat heran, setiap kali mertua datang pasti adaada saja masalah buat mereka ( pasutri ) terkadang hal kecil doang jadi besar, yaa bisa dikata setiap kali mertua datang itu bertengkar terus gitu karna itu tadi namanya juga pasutri kan ya ? apalagi masih baru kenal baik juga belum jadi kalau ada cekcok dikit aja si istri kalau mau meluapkan kekesalanya jadinya terpendam gitu soalnya sang istri mengerti kalau lagi ada mertua untuk menghargai di skip dulu aja kekesalanya sampai pada akhirnya menumpuk dalam hati sampai hatinya pun tak kuat untuk menahanya sampai tertekan lahir batin, mana hamil muda, seharusnya dibuat tenang malah dibuat stress akhirnya meledak lah perasaan tsb sampai hamil di usia kandungan 8 bulan percaya ga percaya anak yang dalam kandungan cuman 1,2 kg bayangkaan ini udah sebulan mau lahiran tapi anak dalam perut bbnya sangat sangat tidaknormal akibat sikap mertua dan sifat suami yang sungguh keterlaluan, apalagi kalau sang suami ketika ada mamanya waah memanfaatkan waktu keadaan bertingkah semau maunya tapi ketika mamanya udah pulang semuanya normal ... heran aja sih kok bisa si suami bertingkah semaunya ketika ada orangtuanya.
Banyak hal yang membuat si istri tadi tidak betah serumah dengan sang mertua ... sangat kelihatan tertekan dari ekspersi wajah dan sikap waktu itu karna yang menilai bukan hanya diri sendiri tapi orang orang di sekitar rumah, tetangga2 yang menganggap kami sebagai anak memperhatikan kami ketika mertua datang ... itulah alasan mengapa istri meminta untuk balik ke Makassar untuk lahiran sebab waktu itu tidak memungkinkan lahiran di Bandung sesuai permintaan si mertua dan suaminya yang bersikeras meminta saya lahiran di Bandung , alasanya pun tidak jelas ... mertua meminta saya lahiran di sana tanpa dia, bgtu juga orgtua saya tidak bisa ke Bandung saat itu krn kondisi dan waktu tdk memungkinkan, dan karna jadwal lahiran saya bertepatan si mertua ingin berangkat umroh katanya , tapi Allah berkehendak lain , sebaliknya mertua justru tidak jadi berangkat setelah mantunya memutuskan untuk pulang ke Makassar untuk melahirkan ... jadi waktu mantunya memutuskan balik ke rmh orgtuanya lahiran dengan izin ke suaminya tapi tidak dapat izin krn keegoisanya mendengar arahan dari mamanya minta si istri tetap bertahan di Bandung lahiran yang dimana saat itu si suami sibuk juga perjalanan dinas keluar kota ... sama sekali tidak memikirkan bagaimana nasib istrinya yang mau melahirkan tanpa sosok suami dan orgtuanya ... sangat egois bukan ??? yaah krn itu aturan dan putusan dari mama si suami alias mertua "
Setelah memutuskan balik berat badan si istri meningkat jadi gendut dan bb bayi dalam kandungan yang tadinya 1,2 kg lahir jadi 3,2 kg dalam waktu kurang lebih sebulan, gimana mau naik dilihat minum susu hamil aja , atau konsumsi folamil vitamin bumil ditegur sama mertuanya, " eeh jangan sering minum susu hamil nanti anaknya besar , nanti secar, " bayangin mertua kalau ucapanya gitu ke menantunya yang lagi hamil cucunya, darah daging anaknya sakit hati cuy " ini aja anak dalam kandungan naiknya brp kg setelah balik ke orgtua si istri hahaha makan enak tidur enak tidak tertekan meski jauh dari suaminya si istri justru happy menikmati masa kehamilan tua nya.. tiba saatnya melahirkan dengan proses Secar lahirlah seorang putri cantik imut yang membuat keluarga istri menjadi nangis terharu lihat anak secantik itu MasyaAllah rambut tebal, alis kesambung hidung mancung mulut kecil imut hmm MasyaAllah seketika si istri lupa akan suami dan masalah rumah tangganya ibaratnya semua sakit hati yang selama ini yang ia alami terbayarkan dengan kehadiran sosok putri yang di idam idamkan selama hamil dan jauh sebelum hamil. yang paling parahnya ketika mau lahiran orgtua si istri dan istrinya telfon ke mereka ingin memberitahu kalau anaknya udah lahir , astagafirullah semua keluarga istri nya tidak ada yang percaya 1 pun dari mereka tidak ada yang angkat ataupun merespon malah memblokir nomor telfon istrinya dan keluarga istrinya, takut dimintai biaya kali , soalnya dulu sebelum nikah pakai jaminan SK buat melamar terus di tambah mamanya yang sangat sangat sombong angkuh boros lihat orang dari segi status kekayaan jabatan tapi ujung2 anak nikah malah jaminan SK waah .. banyak sih pegawai nikah pakai uang bank dll tapi asli baru x ini ada keluarga pegawai seperti mereka sumpaaah ga bisa bicara banyak diterima aja Takdirnya saat itu.
2 bulan setelah lahiran si istri minta cerai dan dan suaminya pun mengiyakan terjadilah perceraian yang di dampingi oleh mamanya ( mertua ) sebagai saksi akan kegaduhan yg selama ini terjadi dalam rumah tangga anak dan mantunya hahaha ga sadar diri sih mamanya rumah tangga anakya hancur krn sikap mamanya yang selalu turut ikut campur masalah rumah tangga dan pengambil keputusan rumah tangga anaknya. Perceraian pun sah secara agama dan hukum yang saat itu saya diminta datang ke Bandung menghadiri persidangan tsb tapi saya menolak akan adanya mediasi, saya ingin saat itu semuanya selesai tapa saya hadir menuntut hak nafkah dll pun kalau seorang lelaki paham akan agamanya mengerti akan kodratnya sebagi ayah tanpa istri menuntut di pengadilan pun seharusnya sudah wajib memberika nafkah pertanggung jwbn ke anaknya karna sampai mati itu akan dipertanggung jawabkan.
Dari situ menantu mempelajari karakter mertua dan suaminya tsb, kalau mereka memang cocok serumah tanpa istri ... mamanya type mertua ikut campur urusan anak dan si anak masih dibawah pengawasan mamanya ( anak mami, anak dibawah ketek mamanya ) apa yang mamanya bilang di dengerin tanpa menyaring dulu mana yang baik buat keutuhan rumah tangga mana yang tidak baik buat keluarga kecilnya ...
Soo semoga yang melihat dan membacanya siapapun tanpa terkecuali di karunia Mertua, Suami , atau Istri yang baik sholeh & sholehah bertanggung jawab dalam setiap permasalahan rumah tangganya kelak dunia maupun akhirat Aamiin
Wassallam
Isra Muhita Muhiddin ( @muhitamuhiddin ) 😊
Komentar
Posting Komentar